>>WARTA
>>Bendung
Radikalisme, Pemuda Keagamaan Sidoarjo Gagas Forum Diskusi
Pendeta Natanael dari Pemuda GKJW dan Pemuda
Ansor
LENSA
INDONESIA.COM: Demi menjaga kerukunan antar umat beragama
sekaligus untuk mengantisipasi terjadinya radikalisme diantara
generasi muda, GP Ansor dan Pemuda Muhammadiyah serta Pemuda
Gereja Jawi Wetan menggagas forum diskusi, Kamis (27/10/2011).
Bertempat di Café
lesehan Jl Lingkar Barat, belasan perwakilan ketiga pemuda
keagamaan yang hadir tampak serius tapi santai melakukan
pembicaraan seputar gagasan untuk mendirikan Forum Diskusi.
Ir H. Agus Mahbub Ubaidillah,
ketua PC GP Ansor Sidoarjo selaku pengundang mengawali pembicaraannya
dengan memaparkan beberapa persoalan yang masih menjadi
perhatian semua pihak, khususnya terkait tindakan kekerasan
yang akhir-akhir ini sering terjadi dan dilakukan oleh oknum
yang tidak bertanggung jawab karena terbatasnya pemahaman
seseorang terhadap persoalan keagamaan dan kebangsaan.
“Sebagai pemuda
keagamaan kita harus ikut mengambil peran,” tegasnya.
Selain itu, mereka memerlukan adanya saluran komunikasi
yang intensif diantara sesama pemuda keagamaan untuk menjaga
tali silaturrahmi dan kerukunan yang sudah terjalin saat
ini. Tanpa berpikir panjang, Pemuda Muhammadiyah dan Pemuda
Gereja Jawi Wetan sangat setuju dan menyambut baik gagasan
tersebut.
Rencananya, pembahasan
Forum Diskusi ini akan diperluas dengan mengundang seluruh
pemuda keagamaan yang ada di Sidoarjo. Sedangkan tempat
yang sudah disepakati untuk pembicaraan lebih lanjut di
kantor Pemuda Muhammadiyah.
“Jika tidak keberatan,
kita bertemu lagi di kantor saya,” pinta Jaswani,
ketua PD Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo yang baru. Kesepakatan
pun tercapai dan rapat kecil para pemuda ormas keagamaan
Sidoarjo itu pun membentuk Forum Diskusi Pemuda Keagamaan
Sidoarjo. sumber: LENSAINDONESIA.COM
>>GUSDURIAN
SIDOARJO TEMUI TOKOH LINTAS AGAMA
Gusdurian Sidoarjo mulai unjuk gigi keberadaan mereka.
Mereka mulai bersafari menemui sejumlah tokoh lintas agama.
Komunitas pencinta dan pengagum pemikiran Abdurrahman Wahid
alias Gus Dur ini terbentuk sejak November 2011 lalu.
Mulai Kamis (19/1) pekan lalu, mereka menemui tokoh Konghucu
Bingki Irawan, di rumahnya di kawasan Sepanjang Kecamatan
Taman. “Hari ini (kemarin) kami bertemu dengan sejumlah
kyai Sidoarjo, termasuk pengurus NU Sidoarjo,” ucap
Koordinator Gusdurian Sidoarjo Dodi Dyauddin, kepada Surya,
Minggu (22/1/2012).
Menurut Dodi, Gusdurian Sidoarjo saat ini telah beranggotakan
puluhan pemuda dan mahasiswa. Mereka berasal dari latar
belakang lintas agama. Sementara ini, ada Islam, Kristen
dan juga Katolik. “Sesuai dengan pemikiran Gus Dur
yang menjunjung tinggi pruralisme, anggota kami berasal
dari ragam latar belakang,” ucap Dodi, yang sehari-hari
Ketua Lakpesdam PCNU Sidoarjo.
Karena baru terbentuk akhir tahun lalu, praktis belum banyak
kegiatan yang dilakoni Gusdurian Sidoarjo. Untuk tahap awal,
mereka sengaja road show bersilaturrahmi menemui sejumlah
tokoh lintas agama untuk mengenalkan komunitas tersebut.
“Biar tidak terjadi salah paham dengan keberadaan
kami,” harapnya.
Tak hanya road show, Gusdurian Sidoarjo juga bakal ikut
menghadiri perayaan tahun baru Imlek di sebuah kelenteng
di kawasan kota Sidoarjo. Minggu pukul 22.00 ini (kemarin),
mereka akan ikut berbaur dengan umat Konghucu merayakan
tahun baru China itu. “Kami datang atas undangan mereka
untuk merayakan Imlek,” beber alumni Sekolah Tinggi
Ilmu Hukum Yayasan Pendidikan Maarif (STIH YPM) Sepanjang
ini.
Sekretaris Gusdurian Sidoarjo Natael Hermawan menambahkan
tidak hanya umat Islam, namun pihaknya juga mengagumi sosok
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Salah satu pendeta di Gereja
Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sidoarjo ini menilai, apa yang
dilakukan Gus Dur sangat konkrit, terutama soal nilai-nilai
pruralisme. “Beliau selalu membela orang yang marginal,”
beber Natael. Sumber : Tribunjatim.Com,Sidoarjo
|